Korelasi muka air tanah dangkal dengan kejadian liquefaction gempa YogyaMei 2006 di sedimen volkanik-klastik bagian selatan, area Yogyakarta
TL;DRAbstract
Pada saat gampabumi besar di Jogjakarta pada bulan Mei 2006, terjadi beberapa peristiwa liquefaction di beberapa tempat di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya. Peristiwa liquefaction sangat dipengaruhi oleh kedalaman air tanah di daerah tersebut, disamping beberapa parameter lainnya. Korelasi data pengamatan terjadinya liquefaction setelah gempabumi tersebut dengan pengukuran kedalaman air tanah menjadi hal yang menarik. Sebanyak 493 sumur gali di area volkanik-klastik bagian selatan sudah diukur kedalaman air tanahnya dengan menggunakan meter ukur. Korelasi cukup tinggi ditunjukkan antara daerah dengan kedalaman air yang dangkal dengan posisi terjadinya liquefaction. Rata-rata kedalaman air tanah erjadinya liquefaction adalah 2,05m. Jika semua kedalaman air tanah dari titik amat liquefaction diperhitungkan, hampir 90% area penelitian menunjukkan potensi tinggi untuk terjadi liquefaction.
Chat with Paper
AI Agents for this Paper
Pada saat gampabumi besar di Jogjakarta pada bulan Mei 2006, terjadi beberapa peristiwa liquefaction di beberapa tempat di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya. Peristiwa liquefaction sangat dipengaruhi oleh kedalaman air tanah di daerah tersebut, disamping beberapa parameter lainnya. Korelasi data pengamatan terjadinya liquefaction setelah gempabumi tersebut dengan pengukuran kedalaman air tanah menjadi hal yang menarik. Sebanyak 493 sumur gali di area volkanik-klastik bagian selatan sudah diukur kedalaman air tanahnya dengan menggunakan meter ukur. Korelasi cukup tinggi ditunjukkan antara daerah dengan kedalaman air yang dangkal dengan posisi terjadinya liquefaction. Rata-rata kedalaman air tanah erjadinya liquefaction adalah 2,05m. Jika semua kedalaman air tanah dari titik amat liquefaction diperhitungkan, hampir 90% area penelitian menunjukkan potensi tinggi untuk terjadi liquefaction.
Keywords
Chat
Click to start Chat